Dewi tiba di sekolah titik-titik bel tanda masuk kelas berbunyi

TANDA -TANDA DALAM UPACARA PERKAWINAN BATAK TOBA (Tinjauan Semiotika)

Jakarta, 11 Juni 2012 Acara ulang tahun akan segera dimulai satu jam

Tujuh Golongan yang Akan Dinaungi Allah

Tanda tangan : Saya akan jujur

MOHON PERHATIAN PRESENTASI AKAN SEGERA DIMULAI

Tanda-Tanda Kematian Akan Menjemput Kita Indahnya Berbagi

MOHON PERHATIAN PRESENTASI AKAN SEGERA DIMULAI

MOHON PERHATIAN PRESENTASI AKAN SEGERA DIMULAI

MOHON PERHATIAN PRESENTASI AKAN SEGERA DIMULAI

Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang tepat!

Menentukan waktu dan jam yg tepat untuk trading forex

Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat, berilah tanda (X)

Sebuah Tatanan Dunia Baru Akan Segera Dimulai : Sudah Siapkah Anda?

dan akan dicatat dalam Lampiran Tanda Terima Dokumen Perbaikan Pasangan

Rekenkamercommissie BEL. Kostentoerekening BEL Combinatie

Beberapa Minggu ini Fikri sering datang lebih awal ke sekolah, agar dia bisa bertemu dengan Zahra yang juga selalu datang lebih awal. mereka jadi sering bertegur sapa, walaupun singkat. Tapi Fikri selalu menantikan hal itu. Dan alasan lainnya adalah dia tidak mau bertemu dengan mama tirinya. Suasana sekolah masih sepi sama seperti hari-hari sebelumnya, hanya beberapa siswa yang baru datang pagi itu. Fikri yang sedang duduk termenung di bangkunya terkejut dengan kedatangan Dewi. Ia agak bingung karena baru melihat Dewi datang pagi-pagi sekali ke sekolah, maklumlah dia salah satu siswa yang terkadang terlambat ke sekolah.

"Hai Fikri."

"Eh... Dewi?!"

"Iya aku, ada apa, kamu menunggu seseorang? "

"Eh,... tidak kok."

Fikri pun berjalan menuju ke depan kelasnya dengan sedikit kecewa ia menghela nafas panjang. Dia sangat berharap hari ini bisa mengobrol dengan Zahra seperti kemarin tapi hari ini mungkin tidak. Dia hanya duduk di teras kelasnya sambil sesekali melihat siswa-siswi yang berdatangan. Baru setelah bel telah mau berbunyi Zahra datang. Fikri melihat kearahnya, dia sangat bahagia bila melihat gadis itu, entah kenapa? Dia merasakan perasaan yang tenang saat melihat Zahra. Dia ingin selalu bersama dengannya, ia ingin mengenal gadis itu lebih dekat lagi.

Melihat Zahra masuk ke kelas, Fikri pun segera beranjak pula untuk masuk. Terlihat semua teman-teman kelas mereka sudah datang. Zahra duduk di tempatnya, disampingnya telah ada Dewi yang segera menyambutnya dengan pertanyaan." "Tumben kamu telat zah? "tanya Dewi (Zah adalah singkatan nama dari Zahra).

"Aku tidak telat Kok, kan belum bel. "

Fikri yang sudah duduk di bangkunya pun mendengar percakapan dua gadis itu.

"Iya, tapi maksud aku, tumben kamu datangnya lambat. Beberapa minggu ini kan kamu selalu datang pagi-pagi sekali dan berdiri di balik jendela itu. Sampai-sampai teman-teman menjuluki kamu Si ratu subuh penjaga jendela hahaha." Dewi tertawa terbahak-bahak.

"Ih, kamu Wi." Zahra mencubit pelan lengan Dewi (Wi adalah singkatan nama dari Dewi).

"Emang benar kan aku tuh kadang penasaran loh, apa sih yang kamu lihat di situ? betah banget. Atau jangan-jangan lagi lihatin seorang yah... hayo ngaku." Masih terus mengejek.

"Kamu makin ngeselin ah... aku tidak mau jawab. "

"hehe... cuma bercanda kok maaf... maaf, jangan cemberut gitu." Dewi balik mencubit pipi Zahra yang lagi cemberut.

Fikri yang sejak tadi mendengar percakapan dua gadis itu jadi penasaran tentang Zahra yang selalu datang lebih awal ke sekolah dan berdiri di depan jendela. 'Siapa yang dilihat oleh Zahra? Apakah dia suka sama seseorang?' Benarnya berbicara.Tak lama kemudian dia pun beranjak dari tempatnya duduk dan keluar dari kelas. Ada rasa penasaran dan cemburu dalam hatinya. Cemburu? Apa benar? Mengapa dia cemburu? Benaknya benar-benar kacau, ditambah lagi dengan permasalahan yang ada di rumahnya, dia tidak ingin berada di sini.

Bel pun berbunyi semua siswa segera menuju kelas masing-masing ada yang berlari ada yang jalan dengan santainya, dan ada juga yang berjalan sambil bercanda dengan teman-temannya. Guru-guru pun telah berjalan menuju kelas yang akan mereka ajar, ibu wali kelas XII.IPA 1 terlihat sedang menuju kelas anak walinya. Dia mengajar pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA). Setelah masuk kelas segera dia mengabsen siswanya. Semua siswa menyahut bergantian ketika nama mereka disebut titik namun saat tiba nama Fikri tidak ada jawaban ibu Asnia pun melihat kearah tempat duduk Fikri, begitupun dengan beberapa siswa, spontan mereka melihat ke arah bangku Fikri. Zahra yang duduk di depan bangku Fikri pun berbalik, terlihat hanya ada Deni di sana.

"Deni, apa kamu melihat Fikri?" Tanya Ibu Sania kepada Deni.

"Tadi dia ada di sini kok Bu, saya juga sempat ngobrol sebentar sama dia, tapi sekarang saya tidak lihat Bu, mungkin dia keluar sebentar." Deni menjawab dengan agak ragu.

"Saya tadi lihat Fikri keluar Bu, membawa tasnya. Mungkin dia bolos." Kata salah seorang murid laki-laki.

"Hhmm... baiklah, nanti Ibu yang akan mencari tahu tentang Fikri." Setelah itu Bu Asnia pun melanjutkan mengabsen murid-muridnya.

Beberapa mata pelajaran pun telah selesai, terdengar bel tanda istirahat berbunyi Setelah beberapa saat terlihat siswa-siswi berhamburan keluar kelas. Seperti biasa ada yang berlari dengan tidak sabarnya segera menuju ke kantin. Ada yang sekadar duduk di teras kelas melihat siswa lain yang sedang bermain volley, dan ada juga yang dengan segera menuju perpustakaan, sekedar untuk membaca buku beberapa menit. Seperti Zahra, yang saat ini sibuk mencari buku bacaan. Setelah ia mendapatkan buku yang dia cari dia pun memilih duduk di bangku paling pojok di perpustakaan itu, saat itu suasana perpustakaan cukup ramai, bukan hanya dia yang suka membaca, banyak siswa dari kelas lain pun memilih untuk menghabiskan waktu istirahatnya di tempat itu.

Namun entah kenapa saat dia membuka buku itu tiba-tiba nama Fikri menghampirinya. Dia heran mengapa Fikri tidak terlihat hari ini padahal beberapa teman tadi pagi melihatnya di kelas. Bahkan Dewi juga sempat berbicara dengannya tadi. 'Tapi kenapa dia tidak mengikuti pelajaran?' Katanya dalam hati. 'Kenapa aku jadi mikirin dia? Oh Zahra ada apa denganmu?' Zahra pun berusaha untuk kembali fokus pada buku bacaannya.

asetelah bel berbunyi siswa-siswa segera masuk ke kelas dan melanjutkan pelajaran mereka masing-masing, sampai pada bel tanda pulang berbunyi. Begitu berbunyi semua pun berhamburan menuju gerbang, tapi sampai saat ini Fikri belum terlihat di sekolah.

Keesokan harinya, Zahra yang sedang berdiri dari balik jendela melihat seseorang yang dicari-carinya beberapa hari ini masuk menuju gerbang sekolah. Dengan tidak sabar dia menunggunya masuk ke kelas namun yang ditunggu tidak juga tiba. Zahra pun memutuskan untuk mencarinya keluar namun dia tidak menemukannya.

Pelajaran kembali berlangsung, guru kembali mengabsen, dan masih sama saat nama Fikri disebut tidak ada jawaban. Sudah tiga hari ini dia tidak masuk sekolah. Atau bisa dibilang dia datang ke sekolah tapi tidak masuk ke kelas.

Seperti biasa saat jam istirahat, Zahra menghabiskan waktunya di perpustakaan. Terlihat dia sedang membaca buku tapi pikirannya sedang berada di tempat lain. Tidak lama kemudian, secara tidak sengaja dia melihat Deni yang sedang asyik mencari buku yang akan dipinjam. Zahra pun menghampirinya.

"Assalamualaikum Deni." Sapa Zahra.

"Wa... wa'alaikumussalam Zahra. Ada apa?" Deni yang terkejut dengan kedatangan Zahra pun terlihat agak gugup. Tidak heran, Zahra yang jarang sekali berbicara dengan teman laki-lakinya tiba-tiba menyapa deni. Biasanya Zahra hanya berbicara dengan teman laki-lakinya ketika ada hal yang penting atau untuk membicarakan soal tugas sekolah.

"Maaf aku ganggu kamu aku mau tanya." dengan menunduk.

"Iya, kamu mau tanya apa?"

"Kamu tahu kenapa Fikri berapa hari ini tidak masuk?"

"Aku tidak tahu Zah, aku memang cukup dekat dengan Fikri, tapi dia tidak pernah cerita apa-apa ke aku."

"Begitu ya..." Melamun

"Iya, tapi sepertinya dia sedang ada masalah. karena waktu aku melihatnya dan berbicara dengannya, dia hanya diam, melamun, tidak meresponku."

"Benarkah?"

"Iya."

Zahra terdiam...

"Zah...!" Deni membuyarkan lamunan zahra.

"Astagfirullah." Zahra terkejut.

"Kamu kenapa? jadi melamun gitu."

"Tidak kok Den, makasih ya."

"Iya , sama-sama. "

Zahra pun kembali dulu di tempat dia membaca tadi.


Page 2

Sudah tiga hari ini Fikri tidak masuk ke sekolah,itu pun tanpa keterangan atau bisa dibilang dia bolos sekolah. Ada beberapa teman yang melapor kepada ibu Asnia selaku wali kelas XII.IPA 1 bahwa mereka melihat Fikri tadi pagi di sekolah tapi entah kenapa anak itu tidak pernah masuk ke kelas. Konsekuensinya adalah dikirimkan lah surat pemberitahuan dari sekolah ke rumah Fikri. Dan akibatnya Pak Kusuma menjadi sangat marah melihat tingkah laku anaknya itu yang belum juga bisa berubah.

Siang itu seperti biasa Fikri pulang ke rumah pukul 14.00 seperti jam pulangnya di sekolah. Ayahnya sudah menunggu di ruang tengah. Dengan amarahnya masih belum mereda, Fikri melangkah masuk menuju kamarnya tapi Pak Kusuma menghentikan langkahnya saat berada di ruang tengah.

"Fikri, kemari kamu!" Perintah Pak kusuma.

dengan langkah yang berat Fikri memaksakan dirinya untuk mengikuti perintah ayahnya. Fikri pun duduk di kursi tengah berhadapan dengan ayahnya. Sementara ibu Rani sedang tidak berada di rumah. Ia pergi ke rumah saudaranya sejak 2 hari yang lalu.

"Dari mana saja kamu? " Tanya Pak Kusuma.

"Aku baru pulang sekolah. " Jawab Fikri datar.

"Kamu tidak perlu bohong lagi sama papah, ini." Sambil melemparkan surat dari sekolah di meja ruang tamu tersebut.

"Ini surat dari sekolah, kamu sudah 3 hari tidak masuk kan?! kamu bolos? " Nada suara Pak Kusuma semakin meninggi.

Tidak ada jawaban dari Fikri

"Jawab pertanyaan papah Fikri!"

"Iya... Fikri memang tidak masuk, papah puas?!"

"Semakin hari sikap kamu makin menjadi-jadi kamu mau dikeluarkan lagi dari sekolah? Apa itu yang kamu mau? Jawab papah Fikri!"

"Biarin ph, biarin aku dikeluarin lagi, aku tidak peduli."

"Kamu..." Ketika akan meluapkan amarahnya Pak Kusuma seketika mengingat pesan ibu Rani istrinya bahwa dia harus menghadapi sikap saja dengan lembut. Jangan dengan kekerasan. Perlahan dia berusaha mengalah dan berusaha menjelaskan semuanya baik-baik kepada Fikri.

"Papah tahu kenapa kamu melakukan semua ini, papa minta maaf karena sudah menamparmu, tapi itu semua papah lakukan untuk kamu juga nak."

"Untuk Fikri pah? Bohong!"

"Semenjak mama meninggal papah tidak sayang lagi sama Fikri. Papah hanya memperhatikan istri papah yang baru itu."

"Kamu tahu kan setiap hari papah sibuk di kantor, papah tidak punya waktu untuk memperhatikan kamu, dan papa minta maaf. Papah tahu kamu belum bisa menerima pernikahan papa dengan ibu Rani, tapi cobalah untuk mengenali anak. Dia itu perempuan yang baik, dia juga menyayangi kamu seperti anaknya sendiri. Papah menikah dengan ibu Rani itu semua untuk kebaikan kamu juga nak, papah berharap ada yang bisa mengurus kamu di rumah, kamu bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu lagi seperti dulu. Papah tidak mau kamu kesepian di rumah mama dan papah juga menikah dengan ibu Rani itu semua karena... " Pak Kusuma terhenti, seolah ada sesuatu yang menahannya, membuatnya tak mampu melanjutkan apa yang akan dia katakan.

"Karena apa pah? " Desak Fikri.

"Maafkan papah, saat ini papah belum bisa memberitahu kamu."

"Sudahlah, semuanya udah jelas. Papah tidak usah repot-repot lagi menjelaskan semuanya sama Fikri." Fikri pun berjalan meninggalkan Pak Kusuma, dan segera menuju kamarnya tanpa mempedulikan panggilan ayahnya.

"Fikri ! Fikri! "

Di kamar, Fikri termenung berusaha mencerna apa yang dikatakan ayahnya tadi, yang dia tahu semenjak kepergian mamanya, ayahnya tidak lagi sayang padanya. Karena itu dia pun menikah lagi. Tapi apa yang dikatakan oleh Pak Kusuma tadi benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan oleh Fikri. Dan dia masih bingung dengan apa yang berusaha papanya ingin katakan tadi.

"Apa benar kata masih sayang sama aku? Apa benar dia menikah dengan ibu Rani itu semua untuk kebaikan aku juga? Supaya aku tidak kesepian di rumah? Dan apa yang ingin papa katakan tadi? Aarrkkk... Fikri mengacak-acak rambutnya.


Page 3

Krrriiinnggg...

Suara alarm berbunyi nyaring di kamar cowok tampan itu. Dengan masih setengah sadar dia meraih jam weker di atas meja kecil di samping tempat tidurnya dan langsung mematikannya. Terlihat pukul 05.30 segera dia bangkit dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi.

setelah bersiap-siap dia pun segera mengambil kunci sepeda motor dan berjalan keluar rumah, di tengah langkahnya terdengar suara memanggil.

" Fikri, sarapan dulu nak! " Ajak ibu Rani yang sudah pulang dari rumah saudaranya.

" Tidak. " Jawabnya dengan dingin dan melanjutkan langkahnya. Tanpa menoleh sedikit pun pada wanita yang mengajaknya berbicara. Sesampainya di luar rumah dia menyalakan motornya dan segera berangkat ke sekolah.

Hari ini seperti biasa dia berangkat ke sekolah dengan cepat. Tetapi secepat-cepatnya dia ada yang selalu mendahuluinya sampai ke kelas. Dia adalah Zahra, Zahra memang murid yang paling teladan di sekolah. Tidak pernah terlambat, pintar cantik, baik dia adalah siswa yang patut untuk dicontoh. Tapi yang mengharamkan bagi Fikri adalah ketika dia sudah sampai di kelas Zahra yang tadinya berdiri di dekat jendela segera berlalu dari tempatnya. Keluar dari kelas dan duduk di depan perpustakaan tempat favoritnya setiap pagi. Sesekali dia menghadiahkan senyum kepada Fikri.

Suasana pagi itu begitu indah, burung-burung beterbangan menghiasi sekolah dengan lingkungan yang masih berdiri begitu asri udara begitu sejuk di sana. Terlihat siswa-siswi mulai berdatangan memasuki pintu gerbang masuk sekolah. Pun memutuskan menghampiri Zahra, entah kenapa dia merasa ingin selalu dekat dengan gadis itu. Masih di tempat mereka yang dulu dengan jarak mereka duduk yang cukup jauh, Fikri datang menyapa Zahra.

"Hai, zah. " Sapa Fikri.

Zahra yang seperti biasa sudah membaca buku, menghentikan bacaannya dan menoleh ke arah suara yang menyapanya.

"Assalamualaikum Fikri." Zahra balik menyapa dengan salam.

"Waalaikumsalam." Fikri tersenyum dan sedikit malu. Lagi-lagi jantungnya berdebar tidak seperti biasanya saat dekat dengan gadis ini.

Dengan memandang arah lain Zahra bertanya kepada Fikri mengapa beberapa hari ini dia tidak masuk sekolah. Fikri hanya diam tidak menjawab pertanyaan Zahra. Saat itu bukan hanya mereka berdua yang ada di depan perpus beberapa siswa juga terlihat duduk di sana walaupun memiliki jarak yang sedikit jauh dari tempat Zahra dan Fikri duduk. Siswa itu juga sedang asyik mengobrol sambil menunggu bel berbunyi.

"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau cerita Fik." Zahra tersenyum.

Fikri membalas senyumnya.

"Sebenarnya aku... aku ad..." Belum sempat Fikri menyelesaikan kalimatnya terdengar bel sudah berbunyi.

Kkrriinngg...

Zahra yang sedang serius mendengarkan apa yang akan disampaikan Fikri dibuat terkejut dengan suara bel tersebut.

"Ceritanya lain kali aja yah. " Sambung Fikri yang tiba-tiba menjadi ragu untuk menceritakan masalahnya, ditambah lagi bel sudah berbunyi.

"Iya tidak apa-apa. " Jawab Zahra.

mereka berdua pun segera berjalan menuju kelas, begitu juga dengan siswa-siswi yang lain terlihat beberapa berlarian menuju kelas mereka masing-masing. Dan mengikuti pelajaran yang berlangsung seperti biasa.

Dua mata pelajaran sudah berlangsung hari ini beberapa menit kemudian bel pun berbunyi. Anak-anak pun riuh terdengar keluar dari ruang kelas mereka.

"Fikri ke kantin yuk!" Ajak Dewi sesaat setelah berbunyi.

"Fikri aja nih yang diajak? Aku dan Zahra tidak?" Kata deni yang mendengar Dewi hanya mengajak Fikri.

"Kalau kalian mau ikut, ya udah ayo..." Kata Dewi sedikit berat.

"Kalian aja bertiga yang ke kantin ya cuma aku mau ke perpustakaan dulu, mau mengembalikan buku yang aku pinjam." Kata Zahra menolak.

"Aku juga mau ke perpustakaan, sekalian bareng yuk Zah."

Fikri begitu semangat ingin mengajak Zahra ke perpustakaan bareng.

"Loh, kok ke perpustakaan sih, aku kan ajak kamu ke kantin." Kata Dewi kecewa.

"Nanti aja yah Dewi, kamu bareng sama Deni aja dulu."

" Ya udah deh. " Dewi pun menuju ke kantin dengan langkah yang agak malas-malasan. Deni yang melihat Dewi jalannya lambat segera menarik tangannya untuk berjalan lebih cepat.

"Ihhh, apaan sih kok mah jangan pegang-pegang tangan aku. "

"Habis kamu jalannya lambat banget, kecewa ya Fikri nggak jadi ikut. "

"Deni meledek Dewi."

"Iihhh, apaan sih..." Sambil mencubit lengan Deni karena kesal.

"Aduh... sakit tahu."

"Biarin. "

Suasana hening sejenak mereka yang berjalan bersama berhenti berbicara. Terlihat Dewi masih cemberut, Deni yang jahil tiba-tiba mengejeknya lagi.

"Kecewa ia kan!"

"Iihh, Deni jangan rese gitu deh,."

"Kecewa... kecewa... kasihan deh kamu." Deni pun berlari menghindar dari cubitan Dewi yang kesal sama dia, sementara Dewi terus mengejarnya sampai ke kantin.

Sementara itu, Fikri dan Zahra pun terlihat berjalan beriringan menuju perpustakaan. Zahra terlihat memegang buku yang akan dia kembalikan. Sementara Fikri sebenarnya tidak ada niat untuk ke perpustakaan, dia hanya ingin bersama dengan Zahra. Karena dengan bersamanya Fikri merasa hatinya lebih tenang dengan masalah yang belakangan ini selalu datang padanya.

Sesampainya di perpustakaan, Zahra langsung menghampiri penjaga perpustakaan dan segera mengembalikan buku yang dia pinjam. Fikri memilih-milih buku untuk dibaca. Yah, walaupun hanya berpura-pura.

Suasana di perpustakaan cukup tenang. Walaupun sesekali terdengar obrolan berbisik-bisik dari beberapa siswa yang saat itu sedang berada di perpustakaan. Perpustakaan di sekolah itu cukup luas dengan meja meja bundar dan kursi kursi yang mengelilinginya. Rak-rak yang cukup tinggi berjajar dengan buku-buku yang tersusun rapi khas ruang perpustakaan di sekolah.

Setelah mengembalikan buku yang dipinjam, Zahra berjalan ke rak-rak buku yang berjajar itu terlihat dia kembali memilih-milih buku untuk dia pinjam. Itulah hobi Zahra, membaca. Bisa dibilang dia adalah siswa yang paling banyak mencatatkan namanya di buku perpus. Setelah dia membaca buku yang ia pinjam dia akan mengembalikannya dan meminjam buku yang baru lagi. ketika telah mendapatkan buku yang ia ingin baca, Zahra pun berjalan menuju meja yang dekat dengan jendela, ia duduk disana.

Fikri yang sedari tadi memperhatikan Zahra secara sembunyi-sembunyi segera mengambil buku yang ada dihadapannya. Entah itu buku apa, dia pun belum sempat melihat dan membacanya, dia memilih untuk segera menuju tempat di mana Zahra duduk. Saat ini mereka duduk di meja yang sama Fikri duduk di bangku yang berhadapan dengan Zahra, ya... jaraknya cukup jauh sejauh meja bundar yang cukup lebar itu. Zahra masih sibuk dengan bukunya. Sementara Fikri sibuk dengan buku yang dari tadi pura-pura ia baca. (hehe). Beberapa menit kemudian Fikri memberanikan diri untuk membuka percakapan.

"Itu, buku apa Zah? " Tanya Fikri.

"Ini buku kumpulan puisi. "

"Kamu suka baca puisi? "

"Iya aku suka. Kamu sendiri? "

"Iya aku juga suka, wahh... kesukaan kita ternyata sama yah. "

Zahra hanya tersenyum mendengar Fikri berkata seperti itu.

Beberapa kemudian dia pun memandang keluar jendela. Terrlihat asyik menikmati sesuatu yang ia lihat penasaran dengan hal itu Fikri pun segera memandang keluar jendela pula tapi tak ada sesuatu pun di sana di sana hanya ada pepohonan yang teduh, dan beberapa siswa yang sedang duduk santai dan bercanda ria dengan teman-temannya. Ada juga yang terlihat sedang mengobrol sesuatu seperti menggosip ala ibu-ibu. Yah... di samping perpustakaan mereka ada taman yang cukup nyaman untuk melepas penat setelah belajar. Di tempat ini selalu banyak siswa-siswi yang menghabiskan waktu mereka untuk menunggu bel masuk atau pulang berbunyi. Fikri menduga-duga karena penasaran dia pun bertanya kepada zahra. Zah, kamu lagi lihat apa? "

Mendengar pertanyaan Fikri, Zahra segera mengalihkan pandangannya.

" Tidak lihat apa-apa Fikri. "

" Yang bener? Aku perhatikan kamu senang sekali kalau melihat keluar jendela, maksud aku bukan jendela perpus ini juga hehehe... aku juga selalu lihat kamu memandang dari balik jendela kelas kita kalau aku datang pagi-pagi. " Fikri yang penasaran jadi bertanya panjang lebar.

"Hehehe... tidak Opick aku teringat sesuatu aja jadi tadi lihat kesana. " Kata Zahra sambil mengarahkan pandangannya ke arah jendela.

"Ia. "

Tidak menjawab, Zahra hanya tersenyum padanya.

"Oh iya Fik tadi waktu di depan perpus kamu mau bilang sesuatu? " Sekarang Zahra yang balik bertanya kepada Fikri. Fikri terdiam mendengar pertanyaan Zahra.

Suasana hening sejenak rumah terlihat Fikri tertunduk, seperti sedang menahan beban berat di hatinya. Zahra yang melihat reaksi Fikri menjadi tidak tega.

"Maafin aku ya kalau kamu tidak mau cerita tidak apa-apa kok." Zahra terlihat menyesal dengan pertanyaan yang baru saja ia layangkan.

Fitri menarik nafas panjang sejenak, seolah sedang menenangkan dirinya sendiri.

"Tidak apa-apa kok, sebenarnya aku punya masalah dengan orang tuaku di rumah."

"Punya masalah dengan papa dan mama kamu?"

"Ia, hmm... " Menarik napas sejenak.

"Sekitar 2 tahun yang lalu Mama aku meninggal. Aku sangat sedih menerima semua kenyataan ini Zah. Tapi apa yang harus aku lakukan? Semua itu sudah menjadi takdir bukan?" Semenjak kepergian Mama aku merasa ada yang hilang dari hidupku. Aku seperti kehilangan setengah dari hidup aku Zah, semenjak Mama meninggal, aku merasa papah sudah tidak sayang lagi sama aku, dia tidak memperhatikan aku lagi. Setahun kemudian... " Fikri berhenti sejenak kembali menarik nafas panjang, berusaha menenangkan kesedihan yang kini melanda hatinya.

"Setahun kemudian papah menikah lagi dengan seorang wanita yang tidak lain adalah sahabat almarhumah Mama sendiri. Aku sangat sedih Zah aku merasa papah sudah tidak sayang lagi sama Mama, papah sudah tidak sayang sama aku lagi. Karena secepat itu papa aku menikah lagi. Aku tidak suka suka sama ibu tiriku. Walaupun dia memang cukup baik, tapi tetap saja Zah mengapa dia harus menikah sama suami sahabatnya sendiri. Aku benar-benar tidak menerima semua ini Zah. Karena itu aku melampiaskan semua kekesalanku dengan menjadi anak nakal di sekolah. Selama setahun ini sudah tiga kali aku pindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya dan yang terakhir ini disini. Aku dikeluarkan dari sekolah karena aku suka bolos aku juga kadang tidak pernah datang berminggu-minggu, dan sering berkelahi dengan temanku. Walaupun di rumah aku izin untuk ke sekolah tapi sebenarnya aku tidak sampai ke sana ya... setidaknya aku bisa mendapat perhatian papah, walaupun cuma sebentar dan itu pun dengan amarahnya. " Fikri menunduk dalam-dalam mencoba membendung air matanya yang sedari tadi ingin jatuh.

Zahra yang sedari tadi menyimak merasa sangat sedih mendengar cerita Fikri. Sekarang dia menjadi sangat menyesal karena sudah membuat Fikri sedih.

"Aku minta maaf Fikri, aku sudah membuatmu sedih." Kata Zahra menyesal.

"Tidak apa-apa kok Zah." Fikri berusaha tersenyum ketika melihat gadis cantik itu bersedih, berusaha membuat hatinya tegar walau mendung kini menghiasi wajahnya.

"Tapi apa boleh aku memberimu saran? "

"Tentu saja Zah. "

"Aku tahu sesuatu yang kita cintai dan kita sayangi memang sangat sulit untuk kita lepaskan, atau untuk kita ikhlaskan. Namun, itulah kehidupan Fik, di dunia ini tidak ada yang abadi selain Rabb kita. Kamu tadi bilang kan kalau ini adalah takdir? Kalau begitu kamu harus mengikhlaskan Mama kamu. Sekarang yang perlu kamu lakukan adalah mendoakan dia, mendoakan Mama kamu. Begitu juga dengan pernikahan papamu yang kedua. Itu semua juga sudah takdir Fikri, papah kamu pasti punya alasan mengapa dia menikah dengan cepat, dia bukannya tidak mencintai Mama kamu lagi, Dan aku juga yakin dia pasti memilih kan ibu yang baik untukmu. Kenallah dia dengan lebih baik dan kamu akan tahu dia sayang sama kamu atau tidak, papah kamu juga pasti punya alasan kenapa memilih dia, barangkali papah kamu berpikir dia akan menyanyi kamu setulus hatinya seperti anak kandungnya sendiri. Dan kamu salah kalau selama ini kamu mencari perhatian papa kamu dengan berbuat nakal di sekolah. Iya kamu dapat perhatiannya tapi plus amarahnya bukan? Tapi coba deh kamu buat prestasi di sekolah, itu akan membuat papah kamu bangga sama kamu dan lebih perhatian sama kamu. Dan lagi Mama kamu di sana pasti bahagia kalau melihat anaknya yang hebat di sini. Fikri terkadang apa yang kita anggap tidak baik, justru itulah yang terbaik untuk kita dan apa yang terkadang kita anggap baik belum tentu baik untuk kita.... " Zahra mengakhiri saran dan nasehatnya yang panjang lebar itu dengan senyuman kepada Fikri, walaupun dia tidak langsung memandang Fikri dengan melihat matanya, melainkan melihat kearah yang lain.

Fikri hanya terdiam, namun terlihat dia bisa mengerti dengan apa yang dikatakan Zahra.

"Aku tahu ini semua sulit untuk kamu tapi aku yakin kamu bisa melaluinya dan mengatasi semuanya dengan bijak. Percayalah Insya Allah semuanya akan baik-baik saja. "

Mendengar kata-kata Zahra yang terakhir seakan hati Fikri bergetar. Ada perasaan aneh yang ia rasakan, tapi perasaan itu membuatnya tenang, jauh lebih tenang daripada sebelumnya.

Di tengah percakapan mereka yang cukup serius itu. Bel berbunyi menandakan berakhirnya jam istirahat pertama hari ini. Mereka pun mengakhiri percakapan yang penuh makna itu dan segera masuk ke kelas.


Page 4

Malam ini...

Cahaya rembulan menemaniku

...Mengungkap wajahnya...

Di balik tabir hati

Yang selalu ku samarkan

Perlahan titik-titik-titik uraikan perasaan yang terpendam

Mengalirkan cerita pada sang maha cinta

Tentang dia

Yang hadirnya tersimpan indah

Dalam rajutan jiwa

Gemerlapnya bintang-bintang

Hanya nampak di malam hari

Berperasaan yang kini terpendam

Yang menyalakan lampu cintanya

Di sunyinya malam dalam doa

Mencintaimu dalam sunyi

Itulah caraku

Membiarkan kesunyian ini datang

Dan kau pun menyapa dalam angan

Malam itu satu puisi tercipta dari seorang cowok tampan yang sedang jatuh cinta. Jatuh cinta? Entahlah. Dia pun belum tahu apa nama perasaan yang kini ia rasakan. Yah... hari ini dengan pembicaraan di perpustakaan tadi pagi di sekolah bersama Zahra membuatnya semakin kagum pada gadis cantik itu. Menurutnya Zahra begitu bijak, ia memiliki pemikiran yang dewasa. Tidak sama sepertinya yang masih bersikap kanak-kanak. Melalui nasehat Zahra tadi sedikit banyak telah membuka mata dan perasaan Fikri bahwa apa yang selama ini dia lakukan itu keliru, bagaimana dia bertingkah di sekolah selama ini, dengan melakukan hal-hal yang semakin membuat orang tuanya malu dan susah. Namun satu yang masih sulit ya terima, yaitu keberadaan ibu Rani di rumahnya. keberadaan ibu Rani yang telah menjadi ibunya.

"hari ini, kamu memberikan nasehat yang sangat berarti untuk aku zah, kamu adalah perempuan yang sangat berbeda dari yang lain. entah kenapa kamu selalu punya tempat di hatiku saat melihatmu hatiku menjadi tenang, begitu pun saat kamu memberikan nasehat padaku seolah kamu telah memberikan titik cerah pada kegelapan hatiku saat ini. malam ini, bulan dan bintang menjadi saksi tentang perasaanku padamu. entah perasaan yang seperti apa aku pun masih bingung. tapi yang perlu kau tahu bahwa kau ma aku selalu ingin berada didekatmu, selalu ingin bersamamu. dan bahkan, saat hanya melihat dan memandangmu dari kejauhan saja itu sudah cukup membuat hatiku merasa lebih baik zah. "Fikri berkata pelan dalam kesunyian dari balik jendela kamarnya.

Tok-tok-tok

Terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar Fikri. Tak lama kemudian seorang wanita memanggil dari luar kamar. Fikri tahu betul itu siapa, awalnya seperti biasa Fikri tidak mau membukakan pintu untuk seseorang yang setiap malam selalu datang untuk memanggilnya makan malam. Meskipun hampir setiap harinya Fikri selalu menolak, semenjak Fikri dimarahi sama papanya malam itu. Fikri tidak pernah ikut makan malam bersama lagi. Kalaupun dia lapar, dia hanya akan makan ketika semua orang sudah tidur, bahkan tidak membukakan pintu. Tapi tetap saja setiap makan malam tiba, pintu kamar Fikri selalu diketuk. Saat ingin mengabaikan ketukan pintu dan suara panggilan itu, Fikri teringat akan kata-kata Zahra. 'Kenallah Mama kamu yang sekarang lebih dekat, dan kamu bisa tahu dia sayang sama kamu atau tidak ke rumah bapak kamu juga pasti punya alasan kenapa memilih dia, barangkali papa kamu berpikir dia akan menyayangi kamu setulus hatinya seperti anak kandungnya sendiri.' "

gadis itu sungguh membuatku berubah pikiran." Kata Fikri dalam hati.

Beberapa saat kemudian, Fikri pun membukakan pintu. Terlihat wanita itu tersenyum padanya.

"Makan malam dulu yah nak." Ajak ibu rani

tanpa menjawab, Fikri hanya mengisyaratkan kalau ia mau makan malam bersama hari ini ini dengan segera berjalan menuju meja makan. Ibu Rani yang melihat hal tersebut merasa sangat senang. Ia sampai tidak percaya Fikri hari ini tidak menolak untuk makan bersama. Ibu Rani pun segera menyusul langkah Fikri dengan sumringah. Biasanya ia hanya akan mendapat penolakan, entah itu dengan pintu yang tidak dibuka, atau dengan kata-kata Fikri yang terkadang cukup menyakitkan hatinya. Namun walaupun begitu dia tidak pernah marah kepada Fikri.

Bukan hanya ibu Rani yang terkejut melihat perubahan Fikri, pak Kusuma yang melihat Fikri duduk di hadapannya malam ini di meja makan cukup terkejut dibuatnya. Keluarga kecil itu pun duduk bersama di meja makan.

"Mama ambilkan kamu nasinya yah..." Ibu Rani menawarkan.

Fikri hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa ketika lbu Rani mengambilkan nasi untuknya. Masih dengan wajah yang terlihat sangat senang, Ibu Rani memberikan lauk-pauk kepada Fikri. Mereka bertiga pun makan bersama sesekali Pak Kusuma dan ibu Rani saling tatap dan tersenyum mengisyaratkan kebahagiaan mereka melihat Fikri malam ini.

Setelah makan malam, Fikri kembali ke kamarnya. Terlihat ia kembali sibuk dengan puisinya, dan sesekali membayangkan wajah dan senyum Zahrah. Sepertinya gadis itu benar-benar telah membuatnya jatuh hati. Tidak lama kemudian kembali terdengar ketukan pintu dari luar kamar Fikri. Fikri pun membuka pintu kamarnya saat ini telah terlihat lbu Rani yang berdiri di depan kamar Fikri sambil tersenyum padanya ditangannya terdapat susu putih hangat.

"Ini nak, Ibu bawakan susu hangat untuk kamu." Sambil memberikan susu yang di bawah.

"Iya terima kasih. " Jawab Fikri singkat. Saat akan masuk kembali ke kamar dan menutup pintu, Ibu Rani menghentikannya dengan berkata

"Terima kasih Nak, malam ini kamu mau makan bersama mama dan Papa lagi. "

"Tapi bukan berarti aku sudah bisa menerima Tante jadi Mama aku. Aku makan malam sama tante karena aku memang... a.ku.... memang sedang ingin makan bersama papa. " Fikri sempat bingung memberi alasan pada lbu Rani. Setelah itu Fikri segera menutup pintunya. Dan ibu Rani segera berlalu dari depan kamar Fikri. Ada perasaan senang namun juga sedih yang ia rasakan. Kurang lebih setahun berada di rumah ini, tapi dia belum bisa mengambil hati Fikri, Fikri belum bisa menerimanya sebagai mamanya.

Tanpa ibu Rani dan Fikri tahu Pak Kusuma sedari tadi sedang mendengar percakapan mereka berdua dari balik tembok dekat kamar Fikri. Dia baru kembali dari dapur, mengambil air minum. Saat dia melewati kamar Fikri didengarlah percakapan anak dan ibu tiri itu. Awalnya dengan Fikri makan malam hari ini bersama mereka, dia mengira bahwa Fikri sudah bisa menerima Ibu Rani. Tapi ternyata, dengan melihat sikapnya tadi, ia baru sadar bahwa Fikri masih belum bisa menerima Ibu Rani.


Page 5

Sama seperti hari-hari yang lain Fikri berangkat ke sekolah cukup pagi, ya... tanpa sarapan, padahal pagi ini Bu Rani mengira bahwa Fikri akan sarapan bersama dia dan ayahnya lagi sama seperti malam tadi, tapi ternyata tidak. Fikri berangkat ke sekolah dengan awal seperti sebelumnya.

Setiap pagi Fikri selalu ingin datang lebih awal, karena dia yakin pasti Zahra sudah ada di sekolah sekarang. Dan jika beruntung ke rumah dia bisa berbicara dengan Zahrah. Hari ini dia begitu semangat untuk berangkat ke sekolah, dia ingin mengatakan kepada Zahra bahwa dia sudah mulai belajar untuk menerima semuanya. Dia ingin mengatakan kalau dia berjanji akan berubah menjadi pria yang lebih baik lagi. Dan ada sesuatu hal yang lain yang ingin diungkapkan.

Dengan terburu-buru dia melaju bersama sepeda motornya kembali menaikkan km sepeda motor yang ia bawa, karena pada saat itu jalan raya masih cukup sepi. Jadi Fikri berpikir mungkin tidak masalah jika ia membala

Locked Chapter

Continue to read this book on the APP


Page 6

Sesampainya di rumah sakit orang tua Fikri pun segera mencari ruangan anaknya, dan segera menuju ke sana. Dibukanya pintu ruang ICU itu dengan tidak sabaran. Dan terlihatlah Fikri yang sedang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya, perban pembalut di kepala depan dekat dahinya, dan beberapa perban lagi di kaki dan tangannya. Pak Kusuma dan Ibu Rani sangat sedih melihat keadaan anak mereka sekarang. Ibu Rani duduk di samping tempat tidur Fikri yang masih belum sadar, memegang tangan cowok yang sudah dianggap seperti anak kandungnya itu, dan terlihat air mata kini menghiasi pipinya. Bagi orang tua, rasa sakit yang sangat besar adalah ketika melihat anaknya sakit. Dan seperti itulah yang kini dirasakan oleh Pak Kusuma dan Ibu Rani.

Keesokan harinya, kabar tentang Fikri sampai di sekolah. Ibu Asnia sendiri yang memberitahukan kepada anak-anak kelas XII IPA 1. mereka semua sangat terkejut mendengar bahwa Fikri kecelakaan, begitu pun dengan Zahra. Ketika ia tahu kalau Fikri kecelakaan, terlihat seharian ini dia begitu murung di sekolah. Tak ada raut kegembiraan yang biasanya terpancar di wajah cantiknya. Tak ada raut ketenangan yang biasanya menghiasi harinya. Yang ada hanyalah kecemasan dan kekhawatiran yang ia rasa.

Beberapa siswa siswi di kelas XII IPA.1 sudah merencanakan kapan mereka akan ke rumah sakit untuk menjenguk Fikri begitu pun dengan Zahra, Deni dan Dewi. Mereka berencana akan menjenguk Fikri sore ini. Lebih cepat dari beberapa teman yang berencana akan menjenguknya besok.

Saat sore hari, Zahra, Dewi dan Deni segera menuju rumah sakit, mereka bertiga akan saling menunggu di depan rumah sakit melati sebelum masuk menemui Fikri. Zahra datang bersama Dewi dengan mengendarai motor yang dibawa oleh Dewi, setelah 10 menit kemudian Deni datang dengan mengendarai motor juga. Setelah memarkirkan motornya, mereka bertiga lalu masuk mencari ruangan tempat Fikri dirawat.

Setelah menemukan ruangan tempat Fikri dirawat, mereka bertiga pun segera masuk. Saat pertama kali melangkahkan kakinya di ruangan tersebut hati Zahra terasa sangat sakit apalagi ketika melihat Fikri terbaring tak berdaya di tempat tidur itu.

Perlahan Zahra melangkahkan kakinya menuju Fikri tanpa disadari olehnya butiran bening perlahan jatuh di ujung matanya menghiasi pipi gadis cantik itu. Sadar bahwa air matanya jatuh, ia pun segera menyeka dengan tangannya.

Sekarang Zahra, Dewi dan Deni berdiri di samping tempat tidur Fikri, berhadapan dengan mama Fikri yang masih berada di sana sambil memegang tangan anaknya itu.

"Tante, apa yang terjadi? kenapa Fikri bisa sampai seperti ini?" Tanya Dewi yang juga terlihat sangat sedih.

"Kata pihak polisi tadi pagi di jalan Diponegoro saat Fikri melewati tikungan di jalan itu dari arah yang berlawanan datang sebuah mobil dengan cepat dan tidak terkendali. Fikri yang juga saat itu melaju dengan kecepatan yang tinggi dan saat ingin menghindari mobil itu dia hilang kendali dan akhirnya menabrak sebuah pohon yang ada di depan di dekat jalan raya itu, Dan... " Ibu Rani tidak bisa melanjutkan ceritanya isak tangis terdengar darinya. terlihat Zahra kembali menjatuhkan air mata dan buru-buru ia menghapusnya.

"Sabar yah Tante, Tante harus kuat Demi Fikri. Fikri anak yang kuat, Insya Allah dia pasti bisa melewati ini semua." Zahra mencoba menghibur Ibu Rani.

"Iya Tante." Deni Mengiyakan.


Page 7

Semalaman ibu Rani terus menjaga Fikri, ia belum tidur sama sekali, menunggu anak yang membencinya itu sadar. Pak Kusuma sudah berulang kali menyuruhnya tidur, tapi ibu Rani tetap bersikeras menjaga Fikri.

Saat tengah malam tepatnya pukul 01.45 Ibu Rani yang sedang membaca ayat suci Al-Qur'an di bawah sebelah tempat tidur Fikri terkejut saat sayup-sayup mendengar suara anaknya itu.

"Airrr... aairrr... "

Ibu Rani segera menoleh dan berdiri dari tempatnya duduk.

"Fikri, kamu sudah sadar nak." Ibu Rani begitu senang Fikri telah membuka matanya walaupun masih terlihat sangat lemah.

"A...aair.." Terdengar suara Fikri terbata-bata.

Ibu Rani dengan cepat segera mengambil air di atas meja yang berada di samping tempat tidur Fikri. Perlahan dia mengangkat kepala Fikri dan meminumkannya air.

Setelah meminum air yang diberikan oleh Ibu Rani dia menjadi lebih tenang sekarang. Ibu Rani segera membangunkan Pak Kusuma yang tidur di lantai bawah dengan karpet.

"Pa...pa bangun, Fikri sudah sadar." Sambil menggoyang-goyangkan lengan Pak Kusuma. Pak Kusuma pun segera bangun dari tidurnya. dilihatnya anaknya itu dia sangat bahagia anaknya telah sadar. Dia pun segera keluar ruang ICU itu, untuk memanggil dokter.

***

"Mama akan pulang dulu sebentar ya, Mama akan masakin kamu masakan kesukaan kamu kamu pasti tidak suka masakan rumah sakit kan."

Fikri hanya mengangguk pelan menjawab Ibu Rani. pagi ini Ibu Rani begitu bersemangat memasakan masakan kesukaan Fikri. Dia sangat senang melihat keadaan anaknya semakin membaik. Dia pun segera pulang ke rumah. Pak Kusuma ingin mengantarnya, tapi ibu Rani menolak, dia ingin Pak Kusuma menjaga Fikri.

Sekarang di ruangan itu hanya ada Fikri dan Pak Kusuma. Pak Kusuma memberitahukan kalau kemarin ada teman-temannya yang datang menjenguk sewaktu dia belum sadar. Fikri bertanya apakah mereka Zahra, Dewi dan Deni. Dan pak Kusuma mengiyakannya. Fikri ingin sekali bertemu dengan Zahra. Dia hanya bisa menunduk kecewa. Entah kenapa baru dua hari tidak bertemu dengannya membuat Fikri sangat merindukan gadis itu, apalagi dia belum sempat menyampaikan apa yang ingin dia katakan kepada Zahra.

"Fikri kau tahu, Mama kamu itu sangat khawatir sama kamu. Sampai sekarang mama kamu belum tidur, dia menjaga kamu terus semalaman mendoakan kamu, dia selalu ada di samping kamu. Papa tahu kamu belum bisa menerima ibu Rani sebagai ibu kamu. Tapi nak, dia itu benar-benar sayang sama kamu. Dia sudah menganggap kamu sebagai anaknya sendiri. Papa harap kamu bisa melihat ketulusan hati dia. " Kata Pak Kusuma.

Fikri tahu, dia sudah melihat semuanya rumah waktu dia pertama kali membuka mata, Ibu Ranilah yang ia lihat, yang selalu ada di dekatnya mengambil apa yang dia butuhkan. Fikri sadar bahwa selama ini dia sudah bertindak salah, dia selalu menyakiti hati Ibu Rani tapi sekarang di saat dia sakit, Ibu Ranilah yang selalu ada untuknya.

"Sebenarnya papa juga mau mengatakan sesuatu sama kamu, yang selama ini papa sembunyikan dari kamu."

"Apa mau mengatakan apa?"

"Sebenarnya bapak sudah lama mau mengatakan hal ini sama kamu tapi mama kamu melarangnya. Tapi papa tidak bisa menyembunyikan semuanya lagi nak."

Fikri terlihat sangat serius memandang papanya saat ini, hatinya berusaha menduga-duga apa yang akan disampaikan oleh ayahnya.

"Sebenarnya, papa menikah dengan ibu Rani itu karena permintaan terakhir dari mama kamu nak."

Seketika Fikri seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari papanya saat ini.


Page 8

"Iya Fikri papa menikah dengan ibu Rani itu karena permintaan Mama kamu sendiri, Mama kamu bilang sama papa kalau Ibu Rani itu adalah perempuan yang baik. Ia akan menyayangi kamu seperti anaknya sendiri. Mama kamu mempercayakan Ibu Rani untuk keluarganya nak, Ibu Rani awalnya juga tidak setuju dengan ini semua begitupun dengan papa Fikri, tapi papa tidak bisa menolak permintaan dari mama kamu begitupun dengan ibu Rani. Itulah alasan papa menikah dengan ibu Rani. "

Terlihat bulir-bulir bening jatuh membasahi pipi cowok tampan itu. Kini dia tahu alasan papanya menikah dengan ibu Rani, bukan karena bapaknya sudah tidak sayang lagi dengan almarhumah mamanya tetapi ini semua adalah permintaan dari almarhum mamanya sendiri. Fikri sangat menyesal selama ini telah memperlakukan Ibu Rani seolah-olah dia adalah orang asing yang datang ingin mengambil posisi mamanya. Setelah kejadian ini dia berjanji tidak akan melakukan hal yang sama lagi. ia berjanji akan menerima semuan

Locked Chapter

Continue to read this book on the APP


Page 9

Malam ini Bu Rani begitu antusias membuatkan makanan kesukaan Fikri. Ketika semuanya sudah siap dia pun berjalan menuju kamar Fikri untuk memanggilnya makan. Tetapi baru beberapa langkah kakinya berjalan, terlihat Fikri sudah berjalan menuju meja makan.

"Mama baru aja mau panggil kamu makan nak." Kata Ibu Rani."Iya mah, ini Fikri mau makan."

Spontan Ibu Rani dan Pak Kusuma terkejut saat mendengar kalimat 'ma' dari Fikri.

"Kita duduk ya, Mama sudah masakin makanan kesukaan kamu." Kata Ibu Rani sembari mengambilkan makanan untuk Fikri, menuangkannya di atas piring berwarna kecoklatan itu lalu memberikannya kepada Fikri.

"Hhmm... sebelum kita makan, aku mau bilang sesuatu ke papah dan mamah. " Kata Fikri serius."Kamu mau bilang apa nak?" Tanya Ibu Rani."Aku mau minta maaf sama mama dan papa atas sikapku selama ini. Aku minta maaf Pah. " Sambil melihat kearah Pak Kusuma."Aku sudah buat papa k

Locked Chapter

Continue to read this book on the APP


Page 10

"Zah, aku suka sama Fikri."

Saat itu mereka sedang berada di rumah Zahra belajar bareng, tapi sekarang Zahra malah dibuat terkejut dengan pengakuan Dewi kalau dia suka kepada Fikri. Rasanya seperti ada yang menghantam dirinya sehingga ia tidak bisa berkata apa-apa. Bibirnya seketika membisu mendengar kata itu terucap dari mulut sahabatnya. Dipaksakan nya untuk mengukir sebuah senyum di bibirnya seolah ingin mengatakan aku baik-baik saja.

"Apa dia juga suka ya sama aku? Zah, kamu kok cuma diam sih?" Dewi menyikut tangan Zahra. Zahra yang saat itu sedang berusaha menenangkan hatinya dibuat terkejut oleh dewi.

"Zah, kok bengong sih?"

"Eh, kenapa Dewi? " Zahra terlihat salah tingkah.

"Aku bilang, Fikri suka tidak ya sama aku? Dari awal dia masuk ke kelas kita sebagai siswa baru, aku langsung suka padanya. Dia itu sangat tampan. "

"Jadi kamu suka sama Fikri karena

Locked Chapter

Continue to read this book on the APP


Page 11

"Alhamdulillah Fik." Zahra tersenyum.

"Hhmm... aku juga mau bilang sesuatu yang lain lagi ke kamu."

"Apa?"

"Aku... aku...... Zahra dari awal aku mengenal kamu entah kenapa aku merasakan perasaan yang lain. Perasaan yang melebihi teman. Aku sangat senang saat bisa bersamamu, kamu adalah wanita yang berbeda dengan wanita lain yang pernah aku kenal. Kamu baik, aku sangat bahagia, bahkan ketika aku hanya melihatmu dari jauh ku melihat senyummu. Hari ini aku akan berangkat ke luar negeri. Aku akan melanjutkan studi ku disana, aku menginginkan kepastian darimu."

"Kepastian? Maksud kamu apa Fikri?" Tanya Zahra bingung.

"Zahra, aku menyukaimu apa kamu mau jadi pacarku?"

Terlihat Zahrah sangat terkejut mendengar pernyataan perasaan Fikri. Namun tak lama kemudian wajah teduh dan tenangnya kembali terlihat. Setelah itu dia menatap Fikri sebentar lalu ia mengalihkan pandangannya melihat jauh kedepan.

"Cinta... cinta ad

Locked Chapter

Continue to read this book on the APP


Page 12

DISPLAY OPTIONS


Page 13

DISPLAY OPTIONS


Page 14

DISPLAY OPTIONS